Pendahuluan.

Semua orang kristen sesungguhnya memerlukan 'makanan dan perawatan'yang utuh dan menyeluruh atau holistik. Makanan dan perawatan jasmani dan rohani, secara material maupun spiritual. Para pemimpin kristen yaitu para pendeta, penatua,guru sekolah minggu, pengurus komisi, kelompok kerja dan semua aktifis bertugas untuk memastikan bahwa makanan dan perawatan yang diperlukan oleh jemaat Kristus itu terpenuhi, sehingga jemaat yang adalah domba-domba Kristus terpelihara. Untuk tugas tersebut, maka para pemimpin kristen harus merasa terpenuhi makanan dan perawatannya sendiri. Jika gembala tidak diberi makan seperti halnya domba-domba, maka mereka akan kelaparan, kehausan, kelelahan dan sakit. Namun bahayanya bukan hanya bagi dirinya sendiri. Apa bila kelaparannya, kelelahannya dan luka-lukanya tidak diatasi, maka si gembala bisa jadi akan melakukan tindakan yang tidak ia sadari yang membahayakan orang-orang yang digembalakannya. Karena para pemimpin gereja adalah pemimpin spiritual,dalam arti bahwa setiap aktifitasnya harus dilandasi dan digerakkan oleh dorongan spiritual, maka pembiaan ini akan difokuskan pada kebutuhan spiritual para gembala dan bagaimana memenuhinya.

Kekeringan Spiritual.

Persoalan besar para pemimpin kristiani adalah persoalan kekeringan spiritual. Orang-orang yang kekeringan spiritual ini adalah orang-orang yang tidak menemukan alasan-alasan spiritual mengapa ia harus melakukan setiap bagian dalam pelayanannya. Kekeringan spiritual ini bisa membuat seseorang menjadi loyo atau ogah-ogahan. Ia tidak memiliki energi yang membuatnya berapi-api dan penuh semangat melakukan bagiannya. Atau, mereka mungkin melakukan banyak hal, namun dirinya merasakan bahwa apa yang dikakukannya itu kosong dan hampa. Pelayanan menjadi formal, rutin, kaku , dingin dan tidak melahirkan pertumbuhan, kedalaman dan kehangatan. Tidak ada vitalitas, yang ada adalah rutinitas yang membosankan dan membebani serta kehilangan makna. Flora Slosson menggambarkan kondisi kekeringan spiritual sebagai hubungan yang menjadi kering, seperti hubungan pokok anggur dan ranting-ranting yang mulai kering.

Inti Spiritualitas Kristiani.

Perjumpaan denganKristus yang bangkitmerupakan jantung atau inti spiritualitas Kristiani. Kristus yang bangkit itulah Kristus yang menjumpai setiap murid-Nya. Perjumpaan dengan Kristus yang bangkit itulah yang membebaskan mereka dari rasa bersalah, membalut luka-luka hati mereka yang kehilangan, memulihkan harapan , meneguhkan keragu-raguan dan membangkitkan keberanian mereka yang ketakutan.

Kalau kita meneliti Model perjumpaan Kristus, kita menemukan model perjumpaan yang sangat personal. Kisah-kisah perjumpaan Tuhan Yesus menunjukkan bagaimana Ia hadir, memandang langsung ke setiap orang seolah dia adalah satu-satunya yang hadir sekalipun ia berada ditengah keramaian. Apakah Yesus bertemu seorang imam, seorang anak-anak, seorang pezinah, seorang pemungut cukai, seorang nelayan, seorang yang sakit kusta atau seorang musuh, Tuhan Yesus sungguh hadir sebagai pribadi. Yesus pun memandang setiap orang yang dijumpainya sebagai pribadi, tidak lebih dan tidak kurang. Hubungan yang dibangun sungguh-sungguh hubungan Aku dan Engkau. Tuhan mungkin lebih daripada pribadi namun Tuhan Yesus tidak mungkin kurang dari pribadi.

Kita dapat menjadi lebih sensitif atau peka menanggapi kehadiran Kristus melalui banyak cara. Kehidupan doa yang teratur atau bersaat teduh dimana kita menarik diri dan mencoba menghayati kehadiran Kristus melalui setiap hal yang sedang kita hadapi. Mengapa harus belajar menghayati kehadiran Kristus ? Karena Allah di dalam Kristus adalah Allah yang hadir dimana-mana, Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Hakekat unik dari kekristenan tumbuh dalam perjumpaan dengan hati Allah MELAUI Yesus Kristus.

Ada tiga pola model kekristenan.

  1. Mengganggap kristen adalah agama tentang Yesus. Model ini mengexternalisasikan Yesus. Yesus ditempatkan diluar, semacam superman, seorang tokoh sempurna di luar sana yang kepadaNya kita tunduk. Namun model ini menggiring kita pada sikap ketaatan tanpa banyak perubahan batin.
  2. Model agama dari Yesus. Model ini menempatkan Yesus sebagai saudara tua yang ramah, seorang guru atau pembimbing. model ini membangun ketaatan sebagai usaha meniru atau mengikuti ajaran tetapi tidak memiliki hubungan personal dengan Yesus.
  3. Kekristenan adalah agama melalui Yesus. Pola ini menawarkan kepada kita ikatan yang hidup dengan Yesus; yang melaluiNya kita mengalami Allah, diri kita dan orang lain. Melalui Yesus kita mengalami Allah yang mendalam dan luar biasa. Tanpa hubungan pribadi orang percaya dengan Kristus yang hidup, kekristenan mungkin hanya akan menjadi iman atas gagasan dan cita-cita luhur namun kehilangan angin, api, garam dan raginya. Untuk mengalami kepenuhan kebutuhan spiritual, kita harus selalu berusaha memangun hubungan pribadi dengan Kristus ditengah-tengah kehidupan pelayanan kita.
Download File