Oleh : Imanuel Kristo

 

Kitab Suci bukanlah buku sejarah

Ketika kita membaca Alkitab (tentunya membaca bukan hanya sekedar membaca, tetapi membaca dengan sungguh-sungguh - dalam semangat untuk memahami) maka kita akan menjumpai banyak pertanyaan. Kita akan menemukan banyak tanda tanya di kepala kita, hal itu kita alami karena dalam banyak bagian kita menjumpai teks yang berbeda (berbeda penjelasan, berbeda sebutan nama, berbeda tempat, dan lain sebagainya)…bagaimana dengan semua temuan itu. Adakah kita masih bisa menerima Alkitab sebagai sumber kebenaran dan pegangan dalam hidup kita.

 

Ketika pertanyaan itu muncul, maka saya hendak mengatakan bahwa Alkitab yang kita imani sebagai Firman Allah itu bukanlahbuku sejarah, yang di dalamnya dituliskan banyak peristiwa masa lampau secara detil -'sedetil-detilnya'.Sehingga semua termuat di dalamnya. Penulis Injil Yohanes dalam Yoh 21:25 menuliskan:

"Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus di tuliskan satu persatu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus di tulis itu"

 

Alkitab yang ada di tangan kita adalah refleksi iman dari para beriman di masa lampau yang kemudian di teruskan sehingga menjadi kesaksian yang hidup tentang pekerjaan Allah bagi banyak orang yang hidup di luar zamannya. Itu hal pertama yang hendak saya sampaikan, dan hal lain yang hendak saya ungkapkan adalah bahwa Alkitab yang adalah Firman Allah itu adalah Alkitab yang di tulis oleh manusia. Sekalipun dalam penulisannya mereka ada dalam pimpinan Roh Kudus, namun Allah tetap menghargai kekhasan masing-masing penulisnya. Oleh karena itu perhatikanlah gaya bahasa di dalam Alkitab jelas sangat berbeda dalam setiap kitab yang ada di dalamnya. Hal itu karena tidak lepas dari'ke-khasan'setiap penulisnya.

Dan karena Alkitab di tulis oleh manusia maka itu berarti Alkitab di tulis dengan bahasa manusia, dan bagaimanapun baiknya bahasa manusia senantiasa penuh dengan keterbatasan. Dan karena bahasa menusia penuh dengan keterbatasan, maka itu jugalah yang menjadi keterbatasan Alkitab. Tetapi bagi saya di situlah kelebihan Alkitab, dan jauh akan lebih baik jika Alkitab di tulis dengan'keterbatasan'karena memang manusia hanya bisa memahami yang terbatas. Dan oleh karenanya Alkitab yang tidak terbatas menurut saya jangan-jangan menjadi tidak punya makna apa-apa.

Nah untuk semua itu, ketika kita membaca Alkitab janganlah kita mencari tahu apa yang Alkitab mau katakan tetapi selalu cari tahulah apa yang Allah mau katakan lewat Alkitab.

Hanya dengan cara yang demikianlah maka Alkitab benar-benar memberi makna bagi kita.

 

Bagaimana dengan silsilah Yesus

Dalam Alkitab (baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru), kita dapat melihat ada beberapa silsilah yang dicantumkan, yaitu: daftar nama-nama para leluhur atau garis keturunan dari seseorang atau beberapa orang. Atau secara sederhana, nama-nama orang yang terlibat dalam suatu keadaan tertentu.

Daftar silsilah adalah sesuatu yang penting karena beberapa hal:

  1. Lewat silsilah itulah kita dapat melihat garis keturunan yang menghubungkan nama yang satu dengan nama yang lain berdasarkan kerangka tertentu yang dapat menjadi keterangan tambahan untuk menangkap kekayaan di dalamnya.
  2. Rumusan menghubung-hubungkan dalam silsilah berisikan banyak informasi. Umumnya ada dua bentuk penulisan silsilah dalam Alkitab, yaitu'silsilah garis naik'- penulisan silsilah dalam kategori ini biasanya di tulis dengan cara saling menghubung-hubungkan, missal : x anak dari y. Sementara penulisan yang lain adalah'sislsilah garis turun': x memperanakan y.

 

Dan ketika kita memperhatikan silsilah Yesus kita memang diperhadapkan dengan dua garis rincian keturunan Yesus. Kitab Injil pertama menyampaikan garis rincian dalamgemabahasa kejadian:"Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham…kemudian dilanjutkan dengan garis turun menelusuri 42 generasi dari Abraham kepada kristus (Mat 1:1-17). Sementara itu Injil ke tiga setelah melaporkan baptisan Kristus langsung mengatakan bahwa'Yesus saat memulai memulai pelayananNya, berumur sekitar 30 tahun dikenal sebagai anak Yusuf'(demikian anggapan orang). Lalu dari Yusuf undur ke generasi sebelumnya-lebih 70 generasi sampai kepada Adam, anak Allah (Lukas 3:23-38).

 

Yang jelas ke dua daftar silsilah tersebut hendak menyiratkan garis keturunan Daud melalui Yusuf dengan penegasan bahwa Yusuf adalah ayahde jurebukan ayahde factoYesus. Maksud dari ke dua daftar itu adalah mengukuhkan tuntutan Yesus sebagai putra Daud - selain itu dengan daftar silsilah itu hendak di tekankan juga perihal solidaritas Allah dengan umat manusia dan hubungannya dengan segala sesuatu yang lampau (Perjanjian Lama).

Untuk daftar nama-nama dalam silsilah Yesus memang sangatlah mungkin berangkat dari daftar factual dalam PL namun menurut saya daftar itu tidak begitu saja dapat dipakai sebagai sumber kronologis, karena beberapa daftar silsilah baik dalam PL maupun PB acapkali tidak mencantumkan beberapa angkatan.

 

Hal lain yang hendak saya sampaikan pada kesempatan ini adalah: marilah kita membuat pembedaan antara'Yesus historis'dan'Yesus iman'. 'Yesus historis' menunjuk kepada sosok historis Yesus dari Nazaret dan berbagai kenyataan menyangkut kehidupanNya: apa yang ia katakan, lakukan dan bagaimana Ia mempengaruhi kehidupan orang-orang yang hidup bersamaNya dan mengenalNya. Sementara itu 'Yesus Iman' menunjuk tentang apa yang diimani oleh orang-orang mengenai Yesus dari Nazareth (bahwa Ia adalah Anak Allah, Sang Mesias).

Dalam ke empat Injil, kita menjumpai 'Yesus Iman' - karena para pewarta Injil lebih menekankan tentang apa yang mereka imani tentang Yesus, lebih dari sekedar memberikan informasi kepada kita tentang 'Yesus historis'.

Injil bukanlah biografi, kata Injil itu sendiri dari kata'Gospel', yang berasal dari kata bahasa Inggris abad pertengahan'Godspell', yang berarti "Kabar Baik" atau "Kabar Gembira"(Euangelion)tentang Yesus yang para penulis imani.

 

 

Membaca Alkitab dengan Intuisi

Sangatlah di sadari bahwa gereja-gereja di Indonesia adalah gereja-gereja yang corak theologinya sangat dipengaruhi oleh corak theologia barat yang sangat rasional dan konseptual. Model theology yang demikian senantiasa manempatkan kemampuan berpikir secara logis demi untuk mengetahui dan menafsirkan penyataan Ilahi. Dengan cara itulah maka hubungan antara Allah dengan manusia dan tanggapan manusia terhadap Allah senantiasa berada di bawah pendekatan rasional.

Kecenderungan yang demikian pada akhirnya tidak dapat banyak membantu bagi setiap kita untuk mendapatkan misteri dari realitas Allah dan kekayaan IlahiNya. Tidak jarang misteri Allah dan kekayaan IlahiNya dipaksa untuk menyerah kepada pengertian manusia, padahal yang seharusnya adalah manusia menyesuaikan diri dengan cara misterius yang Allah ambil demi untuk menyatakan diriNya. Begitu juga ketika kita membaca Alkitab, bacalah Alkitab dengan Intuisi (sebuah istilah yang saya pinjam dari C.S. Song, seorang theology kontekstual dari Taiwan). Membaca Alkitab dengan pendekatan Intuitif bukan berarti membaca Alkitab secara spekulatif, tetapi membacanya dalam konteksagape-love(kasih) Allah. Pendekatanagape-loveadalah pendekatan yang di dalamnya kita meyakini bahwa apa yang di lakukan Allah, yang di tuliskan di dalam Alkitab adalah dalam rangka penciiptaan dan penebusan Nya. Jadi ketika kita membaca teks suci bacalah dalam keyakinan bahwa semua itu demi dan untuk manusia. Dengan cara itulah maka kita akan semakin diperkaya oleh kekayaan Alkitab yang Tuhan anugerahkan.

 

Penutup

Meskipun Alkitab memilikiketerbatasan, namun bagi kita Alkitab selalu mempunyai tempat tersendiri dalam hidup kita. Oleh karena itu marilah kita memperlakukannya dengan bijak: tidak mempertuhankan Alkitab sehingga kita terjebak dalam pemberhalaan terhadap Alkitab, tetapi juga tetap menghargai Alkitab sebagai Firman Allah dalam hidup kita.

Tuhan memberkati kita dan terus memperlengkapi kita dengan hikmat dan bijaksanaNya.

Download File