Tentang Gereja

Tahun 1932

Sejarah GKI Gunsa diawali dengan berdirinya Anti Opium Vereeniging (Perkumpulan Anti Pemadatan) dan WijK Verpleging (Perawatan di Wilayah) yang bertujuan menolong orang-orang yang kecanduan candu dan madat yang banyak terdapat di daerah Pasar Senen. Pelayanan ini kemudian berkembang kepada usaha pemberitaan Injil dan akhirnya terbentuklah jemaat di Pasar Senen (Pos PI).

Pelayanan dan pemberitaan Injil tersebut dilakukan oleh Pdt. A.K. de Groot, Pdt. C.L. van Doorn, Pdt. J. Iken, Pdt. O. van den Burg dari Gereja Hervormd Belanda serta tenaga-tenaga setempat seperti Bp. Tjan Hong Jauw, Bp. The Eng Siang dan lain-lain. Mereka dibantu pula oleh keluarga Ibu Gan Kiauw Siong.

Di museum Perpustakaan Nasional tersimpan cuplikan Berita (berichten) dimana sumber berita ini untuk menunjukkan secara jelas awal mula pertama pelayanan yang kemudian menjadi "KRING" = Kelompok. Judul tulisan: VAN ONZEN ARBEID IN OORLOGSTIJD

BERICHTEN, uitgaande van de ANTI-OPIUM VERENIGING

Nummer 31, Augustus 1940

...De propaganda wordt verzorgd door de H.H. Tjan Soen Kioe, Tjan Hong Jauw, Tan How Siang, Lim Pek Hoo, Tan Kong Djin, terwijl enkele oud-patienten in de propaganda meehielpen. Enkele genezen patienten volgden de catechisatie van de voorganger van de Thiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee op Pasar Senen en lieten zich dopen. Hiervan geeft bijgaand kickje een beeld.


13 Mei 1937 (Pra Bakal Jemaat GKI Gunsa)

Pertemuan-pertemuan secara teratur di lingkungan Pasar Senen ini lebih menyerupai apa yang kita sebut sekarang sebagai Persekutuan Wilayah (Kring), walaupun dalam skala lebih kecil. Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena ternyata persekutuan yang kecil ini berkembang menjadi persekutuan yang besar dalam bentuk KEBAKTIAN dan lahirlah sebuah jemaat kecil (cikal bakal Jemaat GKI Gunsa sekarang ini) walaupun belum memiliki pendeta atau gembala jemaat. Kebaktian dilakukan dalam bahasa Indonesia (waktu itu bahasa Melayu), selain ada juga kebaktian dalam bahasa Mandarin dan Hokkian dalam rangka pendekatan kepada orang-orang yang disebut Tionghoa totok.

Pembawa Firman atau pengkotbah dilayani oleh mahasiswa-mahasiswa STT sebagai tempat berpraktek, yaitu Tjoa Tek Swat, Hwan Ting Kiong, Oey Bian Tiong.

Tahun 1941-1945 (Masa Pendudukan Jepang)

Perang dunia ke-2 dan Indonesia diduduki oleh Jepang, hal mana mengakibatkan kemunduran jemaat yang cukup berarti. Beberapa pendeta ditawan oleh Jepang antara lain Pdt. A.K. deGroot dan Pdt. Tjoa Tek Swat. Yang disebut terakhir ini diinternir dan dihukum mati bersama-sama orang-orang lain oleh pemerintah militer Jepang tanpa alasan yang jelas, beliau dimakamkan di tempat hukuman mati itu dilaksanakan di daerah Ancol (tempat ini dikenal sebagai "Eereveld Ancol" (Taman Makam Pahlawan Ancol).

Pekerjaan beliau dilanjutkan oleh Ny. Gan Kiauw Siong dan Bp. Tjan Tjin Siang (pernah menjadi Kepala Sekolah Rakyat jl. Pintu Besi no. 29 sore, yang sebelumnya bernama Bijbel School).


Akibat dari kesulitan uang dan tidak dapat membayar sewa rumah tempat kebaktian, maka gedung sekilah Chr. H.C.S. di Tanah Nyonya No. 1 digunakan sebagai tempat berbakti (kini SMU Gn. Sahari 90A), lalu pindah lagi ke jl. Kramat Raya 65 selama satu setengah tahun. Juni 1945 tempat kebaktian pindah lagi ke jl. Tanah Nyonya Kecil No. 63 (kini Bungur Besar). Sebagai akibat pendudukan Jepang, perkembangan jemaat terhambat dan tenaga pengerja juga berkurang. Yang ada tinggal Bp. Lie Beng Tjoan dan Tjan Tong Ho, Ny. Gan Kiauw Siong. Pekerjaan selanjutnya digantikan oleh ibu Gan Hoat Bwee dan kawan-kawan.

Bulan April 1945, Pdt. Tjan Tong Ho (Pdt. Samuel Messah) mulai diperbantukan pada Jemaat Senen sebagai Konsulen.

Tahun 1946-1950

Banyak pemuda keturunan Tionghoa hijrah ke Jakarta. Mereka inilah yang banyak mengunjungi kebaktian-kebaktian di jemaat Senen. Timbullah kegiatan Paduan Suara Biduan Sion (Sdr. Siem Tjien Hing, Sdr. Siem Tjien Ho dan Njoo Goei Khing Poo (Sdr. K.P. Nugroho alm.)

3-4 Agustus 1948 para wanita dan pemuda mengadakan bazaar serta mengumpulkan koran-koran bekas untuk maksud pembangunan gereja dengan hasil Rp. 13.000,- (uang lama). Panitia pembangunan yang diketuai oleh Sdr. Kho TJoe Jong membeli persil yang digunakan sekarang ini dengan harga Rp. 33.000,- (uang lama), sekalipun pada tgl. 9 Maret 1949 pemerintah mengeluarkan keputusan menggunting nilai uang.

Kita patut bersyukur kepada Tuhan yang senantiasa menyediakan tempat bagi anak-anakNya untuk dapat berbakti. Akhirnya Gereja Senen memiliki tempat ibadah yang tetap hingga saat ini yaitu di Laan Kadiman No.8 (sekarang bernama jalan Gunung Sahari IV).

14 Oktober 1950 nama Gereja Senen dirubah menjadi "Gereja Gunung Sahari" bersamaan dengan selesainya restorasi gedung sekaligus peresmian pemakaian gedung baru sebagai tempat kebaktian.


Tahun 1951 - Sekarang

1 Juli 1953 Pdt. Tjan Tong Ho diteguhkan sebagai Pengerja pertama bagi Jemaat GKI Gunsa.

2 Desember 1958, Jemaat Senen (Gunung Sahari), yang semula menyandang nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee, bersama-sama jemaat-jemaat lainnya di Jawa Barat sepakat bersatu menyebut diri: Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat.

5 Oktober 1960, GKI Gunsa membuka Pos PI di jalan Tanah Tinggi No. 1. Pos ini telah menjadi "batu loncatan" bagi banyak orang mengikuti kebaktian-kebaktian, katekisasi dan dipermandikan di Gunung Sahari IV No. 8. Sementara perkembangan sekolah minggu anak-anak (KAA) juga ikut berkembang maju.

April 1961, karena daya tampung gedung tidak memadai maka dilakukan renovasi gedung gereja. Untuk sementara jemaat beribadah di GKI jl. Bungur Besar no. 84.

21 Maret 1964, renovasi selesai dan jemaat kembali berbakti di gedung baru jalan Gn. Sahari IV No. 8.

1970, Pos KPK Cengkareng bertumbuh menjadi Bakal Jemaat GKI Cengkareng.

26 Agustus 1983, kebaktian perdana hari Minggu padi di Pra Bajem Sunter.

10 Februari 1984, formasi pengurus di Bajem Sunter.

Maret 1990, pendewasaan Bakal Jemaat GKI Kelapa Gading.

April 1990, pendewasaan Bakal Jemaat Sunter.

Desember 1991, pembangunan gedung sarana penunjang dimulai.

Gallery