Ibadah Onsite

MENJADI SAHABAT DI DALAM SITUASI YANG TAK BERSAHABAT


“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17)

Di dunia yang tidak sempurna ini, situasi sulit, terkadang dimanfaatkan bahkan diciptakan oleh orang-orang tertentu yang tak bertanggungjawab yang berpura-pura datang sebagai sahabat atau saudara untuk memperdaya seseorang demi kepentingan pribadi. Dalam ketidakseimbangan emosi, tergagap karena menerima berita buruk, seseorang memang rentan diperdaya dan diekploitasi. Ketika sadar, seseorang dikemudian waktu, ia bagaikan sudah jatuh, masih ditimpakan tangga!

Salah satu situasi sulit adalah tatkala manusia berhadapan dengan kematian. Memang, kematian adalah sebuah kepastian, namun sekalipun sebuah kepastian, pada umumnya, manusia tidaklah siap menghadapinya ketika hal itu terjadi pada orang yang dikasihinya. Dukacita, kehilangan, limbung, terpuruk adalah perasaan-perasaan yang bisa menghinggapi.

Sahabat? Siapakah dia? Menurut firman Tuhan dalam Amsal 17:17, yang layak disebut sahabat adalah dia atau mereka yang menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran! Kalau dekat dan mengaku sahabat hanya pada waktu-waktu tertentu, misalnya kalau sedang merasa perlu saja, itu bukan sahabat namanya! Atau dekat kepada kita ketika kita sedang dalam situasi menyenangkan, kaya, punya jabatan, terkenal, maka itu bukan termasuk dan tidak layak disebut sahabat. Sebab, seorang sahabat menaruh kasih tanpa syarat dan (bahkan) menjadi saudara dalam kesukaran. Sahabat adalah mereka yang hadir menaruh kasih tanpa melihat apakah situasinya bersahabat atau tidak. Waowww, indahnya jika hidup ini dikelilingi sahabat.

Tuhan Yesus, dalam Yohanes 15:3 berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Jadi seorang sahabat, adalah yang rela mati bagi sahabat-sahabatnya! Karena itu menjadi sahabat, adalah sebuah panggilan Allah yang mulia, karena memerlukan cinta kasih yang tanpa syarat! Tidak mungkin seorang dapat menjadi sahabat dengan syarat yang begitu tinggi jika tanpa menerima dan memilki cinta kasih Allah yang mulia tanpa syarat pula. Bersyukurnya, Tuhan Yesus-Allah yang menjadi manusia itu, datang bersedia untuk menjadi sahabat bagi kita semua, Ia memberikan cinta-Nya seorang sahabat sejati dengan cara rela mengorbankan nyawa-Nya untuk menyelamatkan kita.

GKI Jawa Barat bersyukur dipercaya oleh Tuhan-Sang Kepala Gereja untuk mengelola PPK Tabitha melayani mereka yang sedang berada dalam situasi sulit, kehilangan dan dukacita. Tahun ini Tabitha telah melayani selama 54 tahun, menjadi sahabat di kala duka. Dan menjadi sahabat di kala duka adalah panggilan dan tugas mulia, meneruskan keramahtamahan Kristus dalam situasi yang genting. Selamat ulang tahun Tabitha, semoga terus menjadi sahabat dan saudara bagi mereka yang sedang dalam kesukaran. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17).

Tuhan memberkati.

DAV’S