TENTANG GEREJA

Table of Contents

Sejarah GKI Gunsa

Sejarah GKI Gunsa diawali dengan berdirinya Anti Opium Vereeniging (Perkumpulan Anti Pemadatan) dan WijK Verpleging (Perawatan di Wilayah) yang bertujuan menolong orang-orang yang kecanduan candu dan madat yang banyak terdapat di daerah Pasar Senen. Pelayanan ini kemudian berkembang kepada usaha pemberitaan Injil dan akhirnya terbentuklah jemaat di Pasar Senen (Pos PI).

Pelayanan dan pemberitaan Injil tersebut dilakukan oleh Pdt. A.K. de Groot, Pdt. C.L. van Doorn, Pdt. J. Iken, Pdt. O. van den Burg dari Gereja Hervormd Belanda serta tenaga-tenaga setempat seperti Bp. Tjan Hong Jauw, Bp. The Eng Siang dan lain-lain. Mereka dibantu pula oleh keluarga Ibu Gan Kiauw Siong.
Di museum Perpustakaan Nasional tersimpan cuplikan Berita (berichten) dimana sumber berita ini untuk menunjukkan secara jelas awal mula pertama pelayanan yang kemudian menjadi “KRING” = Kelompok.

Judul tulisan: VAN ONZEN ARBEID IN OORLOGSTIJD BERICHTEN, uitgaande van de ANTI-OPIUM VERENIGING
Nummer 31, Augustus 1940
…De propaganda wordt verzorgd door de H.H. Tjan Soen Kioe, Tjan Hong Jauw, Tan How Siang, Lim Pek Hoo, Tan Kong Djin, terwijl enkele oud-patienten in de propaganda meehielpen. Enkele genezen patienten volgden de catechisatie van de voorganger van de Thiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee op Pasar Senen en lieten zich dopen. Hiervan geeft bijgaand kickje een beeld.

Pertemuan-pertemuan secara teratur di lingkungan Pasar Senen ini lebih menyerupai apa yang kita sebut sekarang sebagai Persekutuan Wilayah (Kring), walaupun dalam skala lebih kecil. Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena ternyata persekutuan yang kecil ini berkembang menjadi persekutuan yang besar dalam bentuk KEBAKTIAN dan lahirlah sebuah jemaat kecil (cikal bakal Jemaat GKI Gunsa sekarang ini) walaupun belum memiliki pendeta atau gembala jemaat. Kebaktian dilakukan dalam bahasa Indonesia (waktu itu bahasa Melayu), selain ada juga kebaktian dalam bahasa Mandarin dan Hokkian dalam rangka pendekatan kepada orang-orang yang disebut Tionghoa totok.
Pembawa Firman atau pengkotbah dilayani oleh mahasiswa-mahasiswa STT sebagai tempat berpraktek, yaitu Tjoa Tek Swat, Hwan Ting Kiong, Oey Bian Tiong.

Perang dunia ke-2 dan Indonesia diduduki oleh Jepang, hal mana mengakibatkan kemunduran jemaat yang cukup berarti. Beberapa pendeta ditawan oleh Jepang antara lain Pdt. A.K. deGroot dan Pdt. Tjoa Tek Swat. Yang disebut terakhir ini diinternir dan dihukum mati bersama-sama orang-orang lain oleh pemerintah militer Jepang tanpa alasan yang jelas, beliau dimakamkan di tempat hukuman mati itu dilaksanakan di daerah Ancol (tempat ini dikenal sebagai “Eereveld Ancol” (Taman Makam Pahlawan Ancol).
Pekerjaan beliau dilanjutkan oleh Ny. Gan Kiauw Siong dan Bp. Tjan Tjin Siang (pernah menjadi Kepala Sekolah Rakyat jl. Pintu Besi no. 29 sore, yang sebelumnya bernama Bijbel School).

Akibat dari kesulitan uang dan tidak dapat membayar sewa rumah tempat kebaktian, maka gedung sekilah Chr. H.C.S. di Tanah Nyonya No. 1 digunakan sebagai tempat berbakti (kini SMU Gn. Sahari 90A), lalu pindah lagi ke jl. Kramat Raya 65 selama satu setengah tahun. Juni 1945 tempat kebaktian pindah lagi ke jl. Tanah Nyonya Kecil No. 63 (kini Bungur Besar). Sebagai akibat pendudukan Jepang, perkembangan jemaat terhambat dan tenaga pengerja juga berkurang. Yang ada tinggal Bp. Lie Beng Tjoan dan Tjan Tong Ho, Ny. Gan Kiauw Siong. Pekerjaan selanjutnya digantikan oleh ibu Gan Hoat Bwee dan kawan-kawan.
Bulan April 1945, Pdt. Tjan Tong Ho (Pdt. Samuel Messah) mulai diperbantukan pada Jemaat Senen sebagai Konsulen.

Banyak pemuda keturunan Tionghoa hijrah ke Jakarta. Mereka inilah yang banyak mengunjungi kebaktian-kebaktian di jemaat Senen. Timbullah kegiatan Paduan Suara Biduan Sion (Sdr. Siem Tjien Hing, Sdr. Siem Tjien Ho dan Njoo Goei Khing Poo (Sdr. K.P. Nugroho alm.)
3-4 Agustus 1948 para wanita dan pemuda mengadakan bazaar serta mengumpulkan koran-koran bekas untuk maksud pembangunan gereja dengan hasil Rp. 13.000,- (uang lama). Panitia pembangunan yang diketuai oleh Sdr. Kho TJoe Jong membeli persil yang digunakan sekarang ini dengan harga Rp. 33.000,- (uang lama), sekalipun pada tgl. 9 Maret 1949 pemerintah mengeluarkan keputusan menggunting nilai uang.
Kita patut bersyukur kepada Tuhan yang senantiasa menyediakan tempat bagi anak-anakNya untuk dapat berbakti. Akhirnya Gereja Senen memiliki tempat ibadah yang tetap hingga saat ini yaitu di Laan Kadiman No.8 (sekarang bernama jalan Gunung Sahari IV).
14 Oktober 1950 nama Gereja Senen dirubah menjadi “Gereja Gunung Sahari” bersamaan dengan selesainya restorasi gedung sekaligus peresmian pemakaian gedung baru sebagai tempat kebaktian.

1 Juli 1953 Pdt. Tjan Tong Ho diteguhkan sebagai Pengerja pertama bagi Jemaat GKI Gunsa.
2 Desember 1958, Jemaat Senen (Gunung Sahari), yang semula menyandang nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee, bersama-sama jemaat-jemaat lainnya di Jawa Barat sepakat bersatu menyebut diri: Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat.
5 Oktober 1960, GKI Gunsa membuka Pos PI di jalan Tanah Tinggi No. 1. Pos ini telah menjadi “batu loncatan” bagi banyak orang mengikuti kebaktian-kebaktian, katekisasi dan dipermandikan di Gunung Sahari IV No. 8. Sementara perkembangan sekolah minggu anak-anak (KAA) juga ikut berkembang maju.
April 1961, karena daya tampung gedung tidak memadai maka dilakukan renovasi gedung gereja. Untuk sementara jemaat beribadah di GKI jl. Bungur Besar no. 84.
21 Maret 1964, renovasi selesai dan jemaat kembali berbakti di gedung baru jalan Gn. Sahari IV No. 8.
1970, Pos KPK Cengkareng bertumbuh menjadi Bakal Jemaat GKI Cengkareng.
26 Agustus 1983, kebaktian perdana hari Minggu padi di Pra Bajem Sunter.
10 Februari 1984, formasi pengurus di Bajem Sunter.
Maret 1990, pendewasaan Bakal Jemaat GKI Kelapa Gading.
April 1990, pendewasaan Bakal Jemaat Sunter.
Desember 1991, pembangunan gedung sarana penunjang dimulai.

Dasar Kepercayaan

PENGAKUAN IMAN

1. GKI mengaku imannya bahwa Yesus Kristus adalah:

i. Tuhan dan Juru Selamat dunia, Sumber kebenaran dan hidup.

ii. Kepala Gereja, yang mendirikan gereja dan yang memanggil gereja untuk hidup dalam iman dan misinya.

2. GKI mengaku imannya bahwa Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah Firman Allah, yang menjadi dasar dan norma satu-satunya bagi kehidupan gereja.

3. GKI, dalam persekutuan dengan Gereja Tuhan Yesus Kristus di segala abad dan tempat, menerima Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel, dan Pengakuan Iman Athanasius.

4. GKI, dalam ikatan dengan tradisi Reformasi, menerima Katekismus Heidelberg sebagai kekayaan warisan historis untuk memberikan kepada GKI Gunsa ciri Reformasi , dan secara khusus Reformasi Calvinis.

5. GKI, dalam persekutuan dengan gereja-gereja di Indonesia, menerima Pemahaman Bersama Iman Kristen (PBIK) dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).

Gereja & Misinya

1. Secara universal, gereja bersumber pada Allah yang menyelamatkan melalui karya-Nya di dalam dan sepanjang sejarah. Karya penyelamatan Allah -yang mencapai puncaknya dalam Tuhan Yesus Kristus- dilakukan secara menyeluruh dan meliputi segala sesuatu menuju pemenuhan Kerajaan Allah. Melalui perjanjian-Nya, Allah menghimpun umat pilihan-Nya yang dimulai dari umat Israel dan dilanjutkan dengan umat Allah yang baru dalam Tuhan Yesus Kristus melalui kuasa Roh Kudus, yaitu gereja.

Sebagai umat baru, gereja itu esa. Keesaan gereja itu adalah keesaan dalam kepelbagaian. Dengan demikian, gereja adalah persekutuan yang esa dari orang-orang beriman kepada Yesus Kristus -Tuhan dan Juru Selamat dunia- yang dengan kuasa Roh Kudus dipanggil dan diutus Allah untuk berperanserta dalam mengerjakan misi Allah, yaitu karya penyelamatan Allah di dunia

2. Dalam rangka berperan serta mengerjakan misi Allah, gereja melaksanakan misinya, baik dengan mewujudkan persekutuan dengan Allah dan sesama secara terus-menerus berdasarkan kasih, maupun dalam bentuk kesaksian dan pelayanan. Misi gereja itu dilaksanakan oleh seluruh anggota gereja dalam konteks masyarakat, bangsa, dan negara di mana gereja ditempatkan. Anggota gereja berperan secara hakiki sesuai dengan panggilan Allah dan karunia Roh Kudus.

3. Secara khusus, GKI di samping memahami dirinya sebagai bagian dari gereja Tuhan Yesus Kristus Yang Esa, juga memahami dirinya sebagai bagian dari gereja-gereja di Indonesia, dan bagian dari masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Sebagai gereja di Indonesia, GKI mengakui bahwa gereja dan negara memiliki kewenangan masing-masing yang tidak boleh dicampuri oleh yang lain, namun keduanya adalah mitra sejajar yang saling menghormati, saling mengingatkan, dan saling membantu. GKI membuka diri untuk bekerja sama dan berdialog dengan gereja-gereja lain, pemerintah, serta kelompok-kelompok yang ada di dalam masyarakat, guna mengusahakan kesejahteraan, keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kepemimpinan Gereja

1. GKI Gunung Sahari dipimpin oleh Majelis Jemaat yang anggotanya terdiri dari Penatua dan Pendeta.

2. Persidangan Majelis Jemaat (PMJ) adalah sarana bagi Majelis Jemaat untuk mengambil keputusan.

3. Sesuai dengan kebutuhan pelayanan yang ada, Majelis Jemaat dapat membentuk badan pelayanan yang diangkat oleh dan bertanggung-jawab kepada lembaga yang mengangkatnya.

4. Masa pelayanan Penatua adalah 3 tahun, dan jika sangat dibutuhkan seorang Penatua dapat dipilih dan diteguhkan kembali untuk 1 kali masa pelayanan. Sesudah itu ia tidak dapat dipilih dan diteguhkan kembali untuk waktu sekurang-kurangnya 1 tahun.

Attachments

• Pengakuan-Iman-Rasuli.pdf

• Pengakuan-Iman-Nicea.pdf

• Katekismus-Heidelberg.pdf

•  

Pdt. Royandi Tanudjayaroyandi@gkigunsa.or.id

Dilahirkan di Bogor pada tanggal 22 Jan 1955,

Pdt. Royandi menikah dengan Rus Budiwati dan dikaruniai 2 putri yaitu Laras Putriasih dan Citra Putriarum.

•  

Pdt. Nurhayati Girsangnurhayatigirsang@gkigunsa.or.id

Dilahirkan di Seribudolok pada tanggal 30 Sep 1952.

•  

Pdt. Imanuel Kristoimanuelkristo@gkigunsa.or.id

Dilahirkan di Cirebon pada tanggal 31 Des 1966,

Pdt. Imanuel menikah dengan Rosy Nilam dan dikaruniai seorang putra bernama Joshua Theo Imanuel Putra.

•  

Pdt. Suta Prawirasutaprawira@gkigunsa.or.id

Dilahirkan di Tasikmalaya pada tanggal 24 Agu 1965,

Pdt. Suta menikah dengan Liliek Nofianti dan dikaruniai 3 putri yaitu Julita Tirta Prawira, Ayunistya Dwita Prawira dan Devita Theodora Prawira.

•  

Pdt. David Sudartodavidsudarto@gkigunsa.or.id

Dilahirkan di Blitar pada tanggal 6 Okt 1967,

Pdt. David menikah dengan Herlina Ginting dan dikaruniai seorang putri bernama Cleisia Tyas Alemina Theodora Inakawa dan seorang putra bernama Brachmantya Armandus Agam Tefilla.

•  

Pdt. Merry Rumondang Malaumerrymalau@gkigunsa.or.id

Dilahirkan di Sukabumi pada tanggal 14 Nov 1980.

•  

Pdt. Febe Oriana Hermantofebehermanto@gkigunsa.or.id

Dilahirkan di Solo pada tanggal 4 September 198

Visi, Misi dan Tema Pelayanan

URUSAN INTI (CORE BUSINESS)

Dalam hidup jemaat yang mula-mula jelas terasa bahwa gairah mereka sedemikian besar. Mereka dipenuhi cinta kasih yang sangat dalam dan tulus sehingga mereka rela membagi diri tanpa ragu. Mengapa demikian? Satu-satunya kesimpulan adalah jemaat mula-mula tersebut sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Allah dalam Tuhan Yesus. Bagi mereka Allah tidak merupakan sesuatu yang abstrak dan jauh. Allah hadir dan dialami kehadiranNya oleh mereka.

Bercermin kepada kenyataan itulah, GKI merumuskan bahwa yang menjadi urusan inti (Core Business) gereja (baca: jemaat-jemaat GKI, termasuk GKI Gunsa di dalamnya) adalah perjumpaan manusia dengan Allah dalam Tuhan Yesus. Perjumpaan berarti keintiman, persekutuan, komitmen, dan keindahan hubungan cinta kasih yang saling memberi dan sama-sama bertumbuh.

Sehat tidaknya sebuah jemaat ditentukan oleh frekwensi, kedalaman, kesungguhan dan kelanggengan peristiwa perjumpaan anggota jemaat dengan Tuhan Yesus. Indikator dari perjumpaan tadi adalah adanya persembahan diri dari para anggotanya, termasuk persembahan dana, waktu, perhatian, tenaga, usaha untuk menghasilkan nilai tambah, dan lain-lain.

PEMERCAYA (STAKE HOLDER)

Sejak dari awal berdirinya, gereja senantiasa memiliki orang-orang yang terlibat atau terkait dengan mereka, baik secara langsung seperti para anggota jemaat dan para rasul / pemimpin, maupun tidak langsung seperti anggota masyarakat sekitar, pemerintah, dan lain-lain. Mereka semuanya, ditambah dengan Tuhan Yesus sendiri sebagai Pendiri dan Sang Kepala Gereja, disebut pemercaya (istilah bahasa Inggris dari dunia manajemen adalah stake-holder) karena mereka memiliki kepentingan langsung atau tidak langsung dengan keberadaan gereja. Mereka juga memiliki harapan mengenai apa yang akan gereja lakukan.

Apabila keberadaan gereja mengabaikan salah satu di antara pemercaya itu, makan akan timbul masalah. Di antara pemercaya itu, Tuhan tentunya merupakan pemercaya yang utama.

VISI & MISI

Rumusan Visi GKI (SW) Jabar pada saat ini adalah:

Menjadi gereja yang mampu secara excellent memenuhi kebutuhan nyata dan mengerjakan yang benar bagi seluruh pemercayanya sesuai dengan core business-nya.

Rumusan Misi GKI (SW) Jabar pada saat ini adalah: Memfasilitasi terjadinya perjumpaan antara manusia dan Tuhan pada semua aras, yaitu individu, keluarga, kelompok, jemaat, Klasis, Sinode, antar gereja dan masyarakat, serta Menggarisbawahinya, Memperjelas maknanya, Memurnikannya, Memperseringnya, Memperdalam, Memperkaya, Memperkuat, dan Melanggengkannya.

TEMA PELAYANAN:

Tema pelayanan GKI Gunsa untuk tahun pelayanan 2010 – 2012 ditetapkan sebagai berikut: GKI Gunsa Sebagai Gereja Keluarga Yang Mengasihi, Peduli dan Berbagi Melalui Pemberdayaan Kaum Muda dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup.

Keanggotaan

Anggota GKI Gunsa terdiri dari:

1. Anggota baptisan, yaitu anggota GKI Gunsa yang telah menerima baptisan kudus anak.

2. Anggota sidi, yaitu anggota GKI Gunsa yang telah menerima baptisan kudus dewasa atau anggota baptisan yang telah menerima pelayanan pengakuan percaya /sidi.

Anggota berfungsi melaksanakan misi gereja dan pembangunan gereja.

Baptisan kudus dewasa

baptisan kudus yang dilayankan kepada orang yang mengaku imannya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat dunia.

Syarat untuk menerima pelayanan baptisan kudus dewasa adalah:

1. Telah berusia 15 tahun.

2. Kelakuan dan/atau paham pengajarannya sesuai dengan Firman Allah dan ajaran GKI.

3. Telah menyelesaikan katekisasi.

4. Ditetapkan layak oleh Majelis Jemaat setelah mengikuti percakapan gerejawi berkenaan dengan pemahaman dan penghayatan imannya.

5. Jika calon baptisan berasal dari agama lain dan secara hukum belum dewasa, ia harus menapat ijin tertulis dari kedua orang tua atau walinya. Yang dimaksudkan dengan “belum dewasa” adalah usia di bawah 18 tahun (UU RI No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1.1.)

Baptisan Kudus Anak

baptisan kudus yang dilayankan kepada anak berdasarkan perjanjian anugerah Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dan pengakuan iman orang tua/walinya yang sah secara hukum. Syarat untuk menerima pelayanan baptisan kudus anak adalah:

1. Berusia di bawah 15 tahun.

2. Kedua atau salah satu orang tua/walinya adalah anggota sidi dari Jemaat GKI Gunsa dan tidak berada di bawah penggembalaan khusus.

3. Orang tua/walinya ditetapkan layak oleh Majelis Jemaat setelah mengikuti percakapan gerejawi berkenaan dengan pemahaman dan penghayatan imannya.

Pengakuan Percaya /Sidi

pengakuan percaya yang dilayankan berkenaan dengan baptisan kudus anak yang telah diterima oleh seorang anggota baptisan. Syarat:

1. Telah berusia 15 tahun.

2. Telah menerima baptisan kudus anak.

3. Tidak berada di bawah penggembalaan khusus.

4. Telah menyelesaikan katekisasi.

5. Ditetapkan layak oleh Majelis Jemaat setelah mengikuti percakapan gerejawi berkenaan dengan pemahaman dan penghayatan imannya.

Tanggung Jawab & Hak Anggota Baptisan

Tanggung Jawab

1. Mengembangkan diri dalam kehidupan dan penghayatan iman melalui kegiatan-kegiatan persekutuan, pelayanan, dan kesaksian sesuai dengan umurnya, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama.

2. Mempersiapkan diri untuk menerima pelayanan pengakuan percaya /sidi melalui katekisasi

Hak

1. Mendapatkan penggembalaan

2. Menerima pelayanan pengakuan percaya /sidi

3. Menerima pelayanan pernikahan gerejawi

4. Menjadi anggota pengurus badan pelayanan jemaat

5. Mengajukan peninjauan ulang dan banding yang menyangkut dirinya

Tanggung Jawab & Hak Anggota Sidi Tanggung Jawab

Tanggung Jawab

1. Melaksanakan misi gereja yaitu mewujudkan persekutuan serta melaksanakan kesaksian dan pelayanan secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dalam dan melalui kehidupan serta pekerjaan pribadi maupun keluarga, dalam dan melalui kehidupan serta kelembagaan gereja maupun secara langsung di masyarakat

2. Melaksanakan pembangunan jemaat secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dan dengan pimpinan para pejabat gerejawi serta para pemimpin gerejawi lainnya, dengan:

i. Memberdayakan diri bagi kehidupan dan karya jemaat

ii. Berperanserta dalam penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi program kerja dan anggaran jemaat

iii. Berperanserta dalam penyusunan struktur pelayanan dan struktur organisasi jemaat

iv. Berperanserta dalam proses-proses komunikasi dalam jemaat

v. Berperanserta dalam proses-proses pengambilan keputusan dalam jemaat

vi. Berperanserta dalam penanganan dan penyelesaian masalah-masalah yang muncul dalam jemaat

3. Memahami, menghayati dan berpegang pada pengakuan iman, ajaran GKI, serta Tata Gereja dan Tata Laksana GKI.

Hak

1. Mendapatkan penggembalaan

2. Menerima pelayanan sakramen

3. Menerima pelayanan peneguhan dan pemberkatan pernikahan

4. Memilih pejabat gerejawi dan dipilih menjadi pejabat gerejawi

5. Menjadi anggota pengurus badan pelayanan jemaat

6. Mengajukan peninjauan ulang dan banding

Buku Panduan Jemaat

Attachments

• buku_panduan_jemaat_gki_gunung_sahari_2013.pdf